Langsung ke konten utama

Tugas 6

KEPENTINGAN PROFESIONAL DAN PUBLIK

Sikap profesional harus dimiliki seseorang yang menjalankan pekerjaannya sesuai dengan keahlian atau kemampuan yang dimiliki dan harus melakukan sesuatu secara objektif. Dimana seseorang yang memiliki sikap profesional dapat memposisikan dirinya agar mampu memahami tugas dan tanggung jawab, hubungan dan relasi, serta fokus dan konsisten terhadap urusan pekerjaan. Sehingga pada saat ini sikap profesional menjadi hal yang cukup penting di dunia kerja karena akan berdampak positif bagi perusahaan dan bagi seseorang tersebut. Sehingga persaingan yang ketat dalam dunia kerja membuat sikap profesional menjadi sesuatu yang utama.

Konsep kepentingan publik (public interest) merupakan suatu konsep yang cair. Istilah kepentingan publik akan terus berubah sesuai dengan waktu dan kondisi di setiap keadaan. Menjelaskan pengertian kepentingan publik atau kepentingan umum bukanlah hal yang mudah. Perdebatan tentang definisi kepentingan publik hingga saat ini belum berakhir dan tidak akan berakhir, seiring dengan tuntutan perkembangan zaman.

1.  Konsep kepentingan publik

Istilah public interest merujuk pada kepentingan publik yang luas, bukan apa yang menjadi perhatian publik. Hal ini berarti bahwa apa yang menjadi perhatian publik belum tentu merupakan kepentingan publik. Begitu pula sebaliknya. Apa yang menjadi kepentingan publik terkadang tidak menjadi perhatian publik, tetapi menjadi perhatian individu yang peduli pada kepentingan publik.

Menurut Bagir Manan (Kompas, 20 Juni 2005), kepentingan umum adalah kepentingan orang banyak yang untuk mengaksesnya, tidak mensyaratkan beban tertentu. Misalnya, pembuatan jembatan, yang orang bisa melewatinya tanpa harus membayar, berbeda dengan jika masuk hotel yang harus membayar.

Di dalam masyarakat terdapat banyak sekali kepentingan, baik perorangan maupun kelompok, yang tidak terhitung jumlah dan jenisnya, yang harus dihormati dan dilindungi. Oleh karena itu, wajarlah kalau setiap orang atau kelompok mengharapkan atau menuntut kepentingan-kepentingannya itu dilindungi dan dipenuhi. Di sinilah letak arti pentingnya peran pemerintah. Tindakan pemerintah harus ditujukan kepada pelayanan umum, memperhatikan dan melindungi kepentingan orang banyak (kepentingan publik), sehingga kepentingan publik merupakan kepentingan atau urusan pemerintah.

Menurut Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia, Nomor 55 Tahun 1993, pasal 1 ayat (3), yang dimaksud dengan kepentingan umum adalah ”kepentingan seluruh lapisan masyarakat”. Batasan ini sungguh sangat sederhana, karena hanya dibatasi satu kriteria, maka cakupan pengertian kepentingan umum sangat luas. Ini bisa dilihat dari banyaknya jenis kepentingan umum. 
Menurut pasal 5 ayat (1) Keppres tersebut, kriteria kepentingan umum (dalam konteks pengadaan tanah) adalah kegiatan pembangunan yang dilakukan dan selanjutnya dimiliki Pemerintah serta tidak digunakan untuk mencari keuntungan. Ada 14 bidang kegiatan yang masuk katagori kepentingan umum.
Ada perbedaan definisi/batasan kepentingan umum sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (3) dengan pasal 5 ayat (1). Batasan kepentingan umum sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (3),  adalah kepentingan seluruh lapisan masyarakat. Di sini tidak dibatasi, apakah kepentingan seluruh masyarakat tersebut untuk mencari keuntungan atau tidak, tetap bisa dikategorikan sebagai kepentingan umum.  Begitu juga tidak dijelaskan, dalam konteks pengadaan tanah untuk kepentingan umum, apakah pembangunan tersebut harus dilakukan oleh Pemerintah atau boleh juga dilakukan oleh pihak lain?

Ternyata dalam pasal 5 ayat (1) disebutkan ”kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum adalah kegiatan pembangunan yang dilakukan dan selanjutnya dimiliki Pemerintah serta tidak digunakan untuk mencari keuntungan....”. Menurut penulis, ada dua penjelasan batasan kepentingan umum dalam konteks pengadaan tanah. Pertama, pembangunan tersebut boleh dilakukan oleh Pemerintah atau pihak lain, sepanjang pada akhirnya dimiliki oleh Pemerintah. Kedua, kegiatan pembangunan tersebut tidak digunakan untuk mencari keuntungan.

Makna kepentingan umum dalam konteks pengadaan tanah sangat dimungkinkan lebih dari 14 jenis, karena dalam pasal 5 ayat (2) disebutkan ”kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum selain yang dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden”. Hal ini berarti rujukan untuk menetapkan apakah kegiatan pembangunan itu termasuk kategori kepentingan umum atau bukan, tidak hanya semata-mata ditetapkan dengan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993, tetapi juga bisa ditetapkan melalui Keputusan Presiden, yang secara khusus menyebut jenis kegiatan pembangunan tertentu.  

Batasan kepentingan umum berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 berbeda lagi. Kepentingan umum adalah ”kepentingan sebagian besar lapisan masyarakat”. Menurut penulis, batasan versi Perpres ini lebih rasional jika dibandingan dengan batasan menurut Keppres Nomor 55 Tahun 1993. Fakta menunjukkan, belum tentu semua masyarakat dapat menikmati hasil atau manfaat dari fasilitas pembangunan yang dikategorikan sebagai kepentingan umum. Apalagi kalau lokus pembangunan tersebut sangat jauh dan tidak mungkin terjangkau oleh sekelompok masyarakat dari daerah tertentu.
Menurut Perpres Nomor 36 Tahun 2005, ada 21 jenis kegiatan kepentingan umum (dalam konteks pengadaan tanah) yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. Sayangnya dalam Perpres Nomor 65 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Perpres Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum, bahwa jenis kepentingan umum dalam konteks pengadaan tanah justru dipersempit dari 21 jenis menjadi hanya 7 jenis, yaitu:

a). Jalan umum dan jalan tol, rel kereta api (di atas tanah, di ruang atas tanah, ataupun di ruang bawah tanah), saluran air minum/air bersih, saluran pembuangan air dan sanitasi.

b). Waduk, bendungan, bendungan irigasi dan bangunan pengairan lainnya.
c). Pelabuhan, bandar udara, stasiun kereta api dan terminal.
d). Fasilitas keselamatan umum, seperti tanggul penanggulangan banjir, lahar dan lain-lain bencana.
e). Tempat pembuangan sampah.
f). Cagar alam dan cagar budaya.
g). Pembangkit, transmisi, distribusi tenaga listrik.

Contoh kasus, misalnya kegiatan pembangunan rumah sakit akan mengalami kesulitan, ketika di suatu wilayah hanya tersedia satu-satunya lahan yang bisa dimanfaatkan untuk membangun rumah sakit. Dari segi yuridis, rumah sakit tidak lagi termasuk kategori kepentingan umum, sementara keberadaan rumah sakit sangat diharapkan oleh sebagian besar warga masyarakat.
Hal semacam ini dapat menimbulkan konflik kepentingan, kalau dalam perumusan arti kepentingan umum sendiri hanya menyebutkan jenis dari kepentingan umum sendiri dan tidak menciptakan arti kepentingan umum dengan definisi atau batasan yang jelas.


2.  Membangun Kerja Sama Tim

Dalam dunia kerja dan usaha, tidak dikenal istilah single fighter. Semua merupakan hasil kerja tim. Semua anggota saling membantu dan mendukung demi tercapainya tujuan yang dicanangkan.

Sayangnya, untuk membuat sebuah tim yang solid dan kompak memang tidak mudah. Karena ada banyak kepala di dalamnya yang pasti punya pemikiran yang berbeda. Pikiran-pikiran para anggota tim ini punya kecenderungan saling berbenturan.

Oleh karena itu ada beberapa cara yang dapat membangun kerja tim yang solid dan efektif, yaitu:

1.  Punya Visi dan Misi yang Sama
            Sebuah tim tidak akan bisa bekerja dengan baik dan efektif jika setiap anggotanya memiliki visi dan tujuan yang berbeda.
Sebagai contoh, Si A ingin ke utara, B maunya ke selatan, C justru memilih ke tenggara. Dapat dipastikan, tim yang berisi orang-orang seperti itu tidak akan bisa mencapai target.

Karena itu, dari mulai pimpinan hingga anggota tim harus memiliki visi dan misi yang sama. Sehingga dalam setiap tindakan yang diambil merupakan pengejawantahan dari visi dan misi tim. Bukan visi dan misi individu.

2.  Bangun Rasa Saling Percaya
Rasa saling percaya menjadi syarat mutlak untuk bisa membangun kerja tim yang solid. Karena tidak akan ada kerja tim yang sukses jika anggotanya tidak saling percaya. Akhirnya seluruh anggota hanya bekerja masing-masing secara individual.
Rasa percaya ini akan menegaskan bahwa tugas yang diemban setiap orang pasti berbeda kadarnya. Setiap anggota tim akan yakin bahwa tugas yang dibebankan kepada rekan satu tim akan terlaksana dengan baik dan sesuai kemampuan masing-masing.

3.  Komunikasi Intensif
Jangan pernah anggap sepele masalah komunikasi. Ketika komunikasi sesama angota tim macet, dipastikan kerja tim akan berantakan. Karena setiap orang tidak mengerti apa yang harus dilakukan.
Karena itu lakukan komunikasi secara intensif. Baik melalui meeting pagi atau pertemuan lain yang dilakukan oleh seluruh anggota tim kerja. Sehingga setiap orang akan mengerti tugas dan target yang harus dilaksanakan.
Komunikasi antaranggota tidak perlu harus selalu bertatap muka. Saat ini sudah banyak aplikasi komunikasi yang bisa digunakan.
Seperti WhatsApp, BBM, Line, atau yang lainnya. Manfaatkan fasilitas tersebut untuk menjalin komunikasi intensif antarsesama anggota tim.

4. Adakan Kegiatan Bersama
Tak kenal maka tak sayang. Bagaimana bisa menjalin kerja sama dalam tim jika setiap orang yang ada di dalamnya tidak saling mengenal?
Karena itu, dalam usaha membangun kerja tim yang solid, mutlak harus sering melakukan kegiatan bersama. Khususnya hal-hal di luar pekerjaan.  Mulailah dari yang ringan seperti makan siang bersama. Bisa dilakukan di kantin kantor, atau pergi ke rumah makan yang disepakati bersama.
Adakan kegiatan olahraga bersama yang melibatkan seluruh anggota tim. Mungkin bisa langsung diterapkan dengan berjalan kaki di hari Minggu di acara Car Free Day.
Bisa juga dengan bermain badminton dengan menyewa satu lapangan untuk beberapa jam di luar jam kantor.
Kegiatan di luar pekerjaan ini akan membentuk chemistry kerja sama yang kuat di antara sesama anggota tim.

5. Buat Sistem Penghargaan
Pacu motivasi bekerja seluruh tim dengan membuat sistem penghargaan. Siapa pun yang punya prestasi, laik diganjar dengan reward.
Inti dari pemberian penghargaan ini adalah agar seluruh tim merasa kerja keras mereka dihargai oleh perusahaan.
Selain itu, dengan sistem penghargaan, anggota tim yang lain pun akan terpacu untuk memberi yang terbaik. Sehingga diharapkan nantinya, semuanya akan bekerja secara optimal dan mampu mencapai tujuan secara bersama-sama.
Ada banyak bentuk penghargaan yang bisa diterapkan. Dari mulai membuat label “karyawan terbaik bulan ini”, “karyawan dengan penjualan terbanyak”, atau bahkan pemberian bonus di luar upah yang diterima setiap bulan.

6. Pahami Peran dan Tanggung Jawab
Laiknya sebuah tim sepak bola, setiap anggota tim juga punya peran dan tanggung jawab yang berbeda. Hal ini harus benar-benar dipahami oleh seluruh anggota tim.
Jangan sampai semuanya ingin jadi kiper atau semuanya ingin jadi striker. Bisa berabe.
Membangun kerja tim yang kompak dan efektif pasti butuh pemahaman tentang peran dan tanggung jawab. Sehingga mereka bisa lebih fokus dalam menyelesaikan tugas masing-masing.

7. Tingkatkan Kompetensi Tim
Seperti halnya peran dan tanggung jawab, tingkat kompetensi yang dimiliki tim pun pasti berbeda. Jika ternyata tingkat kompetensi antaranggota tim terlalu jauh perbedaannya, saatnya untuk meningkatkannya melalui pelatihan.
Pastikan kompetensi yang dimiliki setiap anggota tim memang sesuai dengan pekerjaan dan tugas yang menjadi tanggung jawab mereka.
Kalau memang kemampuan yang dimiliki masih belum memenuhi ekspektasi, bisa menghubungi departemen SDM untuk mencari pelatihan yang sesuai.
Ingat, kerja tim akan bisa berjalan dengan baik dan sukses jika masing-masing anggota memang punya kompetensi yang sesuai dengan pekerjaannya.

8. Saling Menghormati dan Menghargai
Perbedaan pendapat dan perselisihan adalah sebuah hal yang jamak terjadi dalam  sebuah tim. Justru dari perbedaan itu, tim akan semakin kaya dengan ide dan pemikiran yang bisa memudahkan jalan menuju target yang dicanangkan.
Tentu saja, selama masing-masing anggota bisa saling menghormati dan menghargai. Menghormati pendapat orang lain yang berbeda. Menghargai hak-hak orang lain dalam mengemukakan pendapat.
Rasa hormat ini nantinya akan membentuk semacam rantai penghubung yang kuat di antara sesama anggota tim.
Sebesar apa pun perbedaan yang terjadi tak akan mampu mengikis kekompakan tim jika rasa saling menghargai dan menghormati sudah tertanam mendalam di dalam diri seluruh anggota.

9. Komitmen yang Kuat
Untuk membentuk sebuah kerja tim yang kompak dan solid dibutuhkan komitmen yang kuat dari setiap anggota. Karena setiap orang akan saling menopang kerja anggota yang lain. Satu orang pincang, maka proses kerja pun tidak akan maksimal.
Pincang bukan hanya dalam hal fisik. Tapi lebih kepada spirit juang dan komitmen bersama untuk mencapai tujuan. Ketika ada anggota yang menurun semangatnya, hal ini bisa berimbas buruk kepada anggota yang lain.
Karena itu, setiap anggota tim harus bisa saling menyemangati rekannya yang tengah menurun performanya. Sehingga mereka bisa selalu berada dalam level yang sama dalam menjalani tugas yang dibebankan.
Tidak ada lagi yang tertinggal karena tidak mendapat perhatian dari rekan kerjanya.

10. Evaluasi Rutin
Kunci sukses sebuah kerja tim adalah evaluasi. Dari evaluasi ini bisa dilihat mana yang sudah berjalan sesuai rencana, mana yang harus mendapat suntikan motivasi, atau kekurangan apa yang harus diperbaiki.
Evaluasi bukan bertujuan mencari kesalahan. Tapi lebih memberi arahan dan masukan agar proses kerja selalu bisa berada di jalur yang direncanakan. Kalaupun ada perubahan, itu merupakan hasil yang sudah disepakati bersama.

3.  Penyelesaian Masalah Keteknikan

Ketika Anda menyelesaikan masalah atau problem, saya rekomendasikan kepada Anda untuk mencoba menggunakan step-step berikut. Hal ini akan membantu Anda menghindarkan beberapa jebakan yang biasanya muncul pada pemecahan masalah.

Langkah 1: Nyatakan Masalahnya
Menggunakan kata-kata Anda sendiri, nyatakan secara jelas masalah tersebut, kata kunci informasi yang diberikan dan variabel yang ditemukan. Hal ini untuk memastikan bahwa Anda benar-benar memahami masalah dan tujuan sebelum Anda mencoba untuk memecahkan masalahnya.

Langkah 2:Diagram/Skema
Gambarlah sketsa realistis dari semua sistem fisik yang terlibat, dan list/daftarlah informasi yang relevan pada gambar. Sketsa tidak harus sesuatu yang teruraikan, akan tetapi seharusnya menyerupai sistem aktual (sebenarnya) dan menunjukkan ciri kuncinya. Tunjukkan beberapa energi dan interaksi massa dengan lingkungan. Daftar informasi yang diberikan pada sketsa akan membantu melihat keseluruhan masalah. Juga, periksa untuk sifat-sifat konstanta tetap selama proses (sebagaimana temperatur selama proses isotermal, isotermal=temperatur tetap) dan tunjukkan semuanya pada sketsa.

Langkah 3: Asumsi dan approksimasi
Nyatakan semua asumsi yang tepat dan aproksimasi (perkiraan) dibuat untuk menyederhanakan problem agar memungkinkan mendapatkan solusi dari problem tersebut. Asumsikan nilai yang masuk akal. Sebagai contoh, ketiadaan data spesifik untuk tekanan atmosfir dapat diambil 1 atm. Meskipun demikian, ketiadaan  data spesifik tersebut selayaknya dicatat dalam analisis dimana tekanan atmosfir menurun dengan meningkatnya ketinggian.

Langkah 4 : Hukum Fisik
Terapkan semua hukum-hukum fisik dasar yang relevan dan prinsip-prinsip (seperti konservasi massa), dan sederhanakan mereka dengan menggunakan asumsi-asumsi yang telah dibuat. Meskipun demikian, daerah dimana hukum fisik diterapkan harus secara jelas teridentifikasi terlebih dahulu. Sebagai contoh, peningkatan kecepatan aliran air melalui nozzle dianalisis dengan menerapkan hukum konservasi (kekekalan) massa antara inlet dan outlet dari nozzle.

Langkah 5: Sifat-sifat
Tentukan sifat-sifat  yang tak diketahui pada kondisi yang diketahui adalah penting untuk menyelesaikan problem dari hubungan sifat atau tabel. Daftarlah sifat-sifat (properties) secara terpisah dan tunjukkan sumbernya.

Langkah 6: Perhitungan
Substitusi variabel yang diketahui ke hubungan (persamaan) yang disederhanakan dan lakukan perhitungan untuk menentukan variabel yang tak diketahui. Jangan memberikan implikasi salah dari presisi yang tinggi dengan menyalin semua digit dari layar calculator. Buat hasilnya pada angka atau bilangan yang tepat dari angka penting.

Langkah 7: Pertimbangan, pembuktian dan diskusi
Periksa untuk memastikan bahwa hasil yang diperoleh adalah masuk akal dan intuitif. Dan buktikan validitas dari asumsi-asumsi yang dipertanyakan. Ulangi perhitungan-perhitungan yang dihasilkan pada nilai-nilai yang tidak masuk akal. Contoh, mengisolasi air menggunakan gas alam senilai Rp. 800.000,- per tahun dapat menghasilkan penghematan senilai 2 juta per tahun. Jelas ini impossible alias tidak mungkin



4.  Mengelola Konflik

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Konflik seringkali terjadi baik dalam hubungan interpersonal maupun dalam organisasi dan bisa menjadi hal yang positif jika ditangani dengan tepat. Namun kita dididik untuk sebisa mungkin menghindari konflik. Konflik tidak harus selalu mengakibatkan kegagalan, kekelahan, atau putusnya hubungan individu. Yang harus kita sadari, bahwa kita memiliki pandangan yang berbeda dengan orang lain, memiliki pendapat yang berbeda atas apa yang terbaik bagi kita dan untuk kelompok/organisasi. Ini merupakan sinyal bahwa perubahan itu dibutuhkan dan mungkin terjadi.
Mengelola Konflik
Kemampuan untuk mengelola konflik serta menyelesaikannya bisa jadi salah satu ketrampilan sosial yang penting bagi seseorang, seperti yang dijelaskan dibawah ini:

1.  Diagnosa titik awal – menentukan sifat dari konflik
Menentukan akar penyebab konflik bukanlah hal yang mudah. Terlebih jika berkaitan dengan nilai-nilai personal. Memahami jenis konflik seperti ini terletak pada kenyataan bahwa kita memiliki harapan yang berbeda-beda, berdasarkan pengalaman kita dalam organisasi. Ketika kita berinteraksi dengan pihak lain yang ekspektasinya diluar dari apa yang ada dalam organisasi, maka munculah konflik.

2.  Inisiasi
Cara paling efektif dalam menangani situasi konflik ini adalah dengan menyatakan efek nyata dari konflik pada diri anda.

3.  Aktif mendengarkan
Negosiator harus bisa mendengarkan sudut pandang orang lain
Saat mendengarkan masalah, jangan memikirikan harus menjawab apa untuk persuasi Jawaban yang bisa memicu terjadinya argumen harus dihindari.

4.  Memecahkan masalah
Melakukan klarifikasi atas masalah yang terjadi. Setelah melakukan langkah-langkah diatas, masing-masing pihak harusnya memiliki gambaran yang jelas terkait dengn masalah yang ada.

5.  Membicarakan apa yang diinginkan/dibutuhkan ( memperjelas fakta dan informasi)
Buatlah daftar solusi yang memungkinkan. Negosiator terbaik akan membuat pihak lain merasa nyaman.

6.  Bersama-sama menentukan solusi terbaik yang dapat diterima semua pihak
Jangan mencoba untuk mempengaruhi atau memaksa. Merencanakan implementasi solusi. Menentukan tugas pada siapa, apa, dimana, kapan dan bagaimana. Merencanakan tinjauan evaluasi terhadap solusi dalam periode tertentu.

Dengan mengetahui poin penting dalam mengelola konflik serta menanganinya, maka akan memberikan kepuasan bagi kedua belah pihak.

Seringkali orang akan merasa puas dan bangga pada dirinya sendiri jika mampu menyelesaikan konflik dengan baik. Ini akan menjadikan individu tersebut memiliki integritas dan percaya diri dalam menerapkan metode diatas, terlepas seberapa berat situasi yang dihadapinya.


5.  Seni Negosiasi

5 Seni Negosiasi yang Berguna Untuk PM
Bagi seorang Project Manager, cakap negosiasi itu sangat perlu.
Bagaimana anda bisa mendatangkan keuntungan perusahaan dari solusi yang ada diskusikan dengan vendor? Atau bagaimana anda bisa meyakinkan suatu kontraktor untuk mau bermitra dengan perusahaan anda? Semua itu bisa terjadi dengan adanya negosiasi yang baik dari Project Manager (PM).

Negosiasi merupakan proses yang melibatkan dua orang atau lebih untuk berkomunikasi persuasif dalam memenuhi kebutuhan mereka. Ada dua proses yang dilakukan dalam negosiasi menurut Skulmoski dan Hartman (2010), yaitu membuat penawaran dan usul balik atau memberi informasi dan mengembangkan hubungan dengan pihak lain. Kedua proses tersebut sama-sama berakhir pada munculnya kesepakatan.

Ada 5 hal yang harus dipahami PM dalam bernegosiasi. Apa sajakah itu?
1.  Proses yang terus berkembang (Ongoing)
Negosiasi dalam proyek biasanya terus terjadi (ongoing). Tujuan dasar dari adanya negosiasi adalah menyelesaikan beberapa konflik yang seringkali datang dari ketersediaan sumber daya (resources). Namun, anda perlu tahu bahwa tidak selamanya komunikasi yang terjadi secara terus menerus adalah negosiasi. Setidaknya ada tiga model komunikasi, yaitu

  • The Arrow (pengirim memberi pesan ke penerima tanpa mengharapkan balasan dari penerima)
  • The Circuit (penerima memungkinkan untuk memberi umpan balik (feedback), jika ada pesan yang kurang dimengerti)

  • Dance (Pengirim dan penerima terus melakukan komunikasi secara terus menerus dimana setiap pihak saling mendengarkan dan memberi respon dalam meyakinkan orang lain).

Jika anda sebagai PM sedang melakukan negosiasi dengan suatu pihak, model komunikasi Dance yang seharusnya anda lakukan.

2. Jenis Negosiasi (Kinds)
Ada banyak jenis negosiasi, yaitu distributive (model negosiasi “win-lose” dimana setiap pihak berebut untuk meraih keuntungan dari hasil negosiasi) dan integratif (model negosiasi “win-win”) yang memiliki dua proses. Proses yang pertama pada model negosiasi “win-win” adalah negosiasi untuk menentukan hal-hal tambahan apa saja yang perlu ditambah dan dibahas dari suatu negosiasi. Proses ini bisa dilakukan dengan brainstorming. Tujuan tahapan ini adalah mengembangkan nilai potensi dari suatu negosiasi. Bisa saja hal-hal tambahan tersebut tidak terlalu penting bagi suatu pihak, namun menjadi penting bagi pihak lain. Proses kedua yang dilakukan adalah melengkapi negosiasi pada kedua belah pihak. Jika nilai-nilai negosiasi yang ingin dicapai sudah tercapai, kedua belah pihak akan merasa menjadi pemenang dalam negosiasi ini. Accomodativemerupakan tipe ketiga negosiasi. Model ini bersifat “lose-win” dimana suatu pihak sengaja mengalah dari pihak lain demi keberlangsungan hubungan diantara keduanya.

3. Pelaku Negosiasi (Roles)
Negosiasi terdiri atas berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Negosiator adalah pihak yang paling dominan pada proses negosiasi. Ada mediator yang akan meringkas jalannya negosiasi dan menfasilitasi jalannya diskusi serta arbitrator sebagai pembuat keputusan. Project Manager biasanya menjadi mediator diantara dua stakeholder yang bernegosiasi. Ia menjadi pihak yang diminta saran oleh stakeholder. Selain itu, PM juga dapat berpindah peran sebagai arbitrator jika diminta.

4. Langkah Pendekatan (Approach)
Ada tahapan-tahapan dalam negosiasi. Secara keseluruhan, negosiasi dimulai pada perencanaan (planning), pendekatan (engagement) dan penutup (closing). PM perlu berbagai persiapan untuk negosiasi dengan pihak lain. Selanjutnya, PM mengeksekusi dan memantau proses manajemen proyek serta menutup negosiasi dengan nota persetujuan (agreement). Banyak kemampuan yang diperlukan bagi PM dalam melakukan tahap-tahap pendekatan ini, diantaranya adalah persuasif, konsensus dan menyelesaikan konflik.

5. Sukses (Success)
Kemampuan negosiasi PM bisa berpengaruh pada kesuksesan proyek. Hal ini berkaitan dengan tercapainya indikator-indikator kesuksesan itu sendiri. Ada banyak indikator kesuksesan suatu proyek yang berbeda-beda pada tiap orang. Bourne (2007 p3) menentukan indikator-indikator keberhasilan sebagai “Pillars of Project Success” yang terdiri atas 3 hal, yaitu The Triple Constraint (Cost, Time, Scope) dan realisasi kegunaan. Ada lagi yang menambahkan kepuasan stakeholder sebagai indikator kesuksesan itu sendiri (Nelson, 2005).
Seni negosiasi bagi Project Manager merupakan suatu proses yang terus menerus, banyak jenisnya dan peran-perannya. Ia juga membutuhkan langkah-langkah yang strategis dalam pendekatannya dan sangat menentukan kesuksesan proyek . Kita bisa merangkum dan menyingkatkan seni negosiasi kedalam akronim yang indah, Ongoing, Kinds, Roles, Approach, Success (OKRAS).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas 5

KODE ETIK PROFESI      Kode etik profesi merupakan suatu tatanan etika yang telah disepakati oleh suatu kelompok masyarakat tertentu. Kode etik umumnya termasuk dalam norma sosial, namun bila ada kode etik yang memiliki sanksi yang agak muluk dalam kategori norma hukum yang didasari kesusilaan.      Kode Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman berperilaku dan berbudaya. Tujuan kode etik agar profesionalisme memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai jasa atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.      Menurut Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari. Mengacu pada hal...